Apakah Indonesia Kaya Migas?

0
1085

Perut bumi Indonesia konon, menyimpan banyak sekali minyak bumi dan gas alam.

sumber utama energi kita adalah minyak dan gas bumi (migas). Sejak membuka mata dan mengawali hari, aktivitas manusia tak lepas dari kebutuhan energi.

Dari menyalakan lampu kamar, menggunakan ponsel, menjerang air, berkendara sehari-hari, hingga memakai alat elektronik di tempat kerja..

Minyak bumi berasal dari bawah tanah yang kita pijak, di dasar lautan yang kita seberangi. Sumber migas itu harus dicari, diambil, lalu diolah, sebelum bisa kita pakai. Minyak bumi akan diolah menjadi bahan bakar kendaraan dan mesin.

Gas bumi dipakai untuk beragam kebutuhan, mulai dari pembangkit listrik, pabrik pupuk, sampai industri seperti pengolahan produk makanan-minuman dan pembuatan keramik.

Namun faktanya, sekian puluh tahun digali, dikeruk, dan disedot, sumber daya alam Indonesia sudah jauh berkurang.

Faktanya Indonesia hanya punya 3,6 milliar barrel cadangan minyak terbukti atau 0,2% dari total cadangan minyak dunia1.698 milliar barrel, 100,3 triliiun kaki kubik (TFC) cadangan gas atau 1,5% dari total cadangan gas dunia 6.599 TFC.

Padahal Kebutuhan minyak mentah saja di dalam negeri mencapai kira-kira1,6 juta barrel per hari. Produksi nasional sekitar: 834ribu barrel per hari.

Adapun gas, pemakaian domestik meningkat 9 persen per tahun sejak 2003 dan per Juli 2016 mencapai 4.016 billion British thermal unit per day (BBTUD).

Faktanya, tanpa ada tambahan cadangan migas baru, cadangan terbukti Indonesia tak akan memadai.

Cadangan minyak Indonesia hanya cukup untuk 12 tahun, sedangkan cadangan gas akan habis 37,8 tahun lagi.

Desember 2015, cadangan minyak terbukti Indonesia tinggal 3,6 miliar barel atau hanya 0,3 persen dari cadangan minyak dunia. Di dunia, versi OPEC, cadangan minyak Indonesia ada di urutan ke-29.

Berdasarkan data SKK Migas, produksi minyak Indonesia per Mei 2016 sebesar 832 ribu barrel per hari (BPOD). Angka ini setara dengan 1% produksi minyak dunia. Untuk produksi harian gas hingga saat ini sebesar 8.215 MMSCFD.

Cadangan gas Indonesia hanya 100,3 triliun kaki kubik atau cuma 1,6 persen cadangan gas dunia.

Hingga mencapai puncaknya pada tahun 1995, sumur-sumur minyak di negeri ini masih menghasilkan lebih dari 1 juta barel minyak per hari. Namun setiap tahun, angka itu terus menurun. Pada 2015, lifting minyak bumi Indonesia hanya 786 juta barel per hari.

Sejak 2001, konsumsi bahan bakar minyak dan gas Indonesia sudah melampaui produksi minyak dan gas yang disedot dari dalam bumi. Namun kenyataannya, untuk menutup defisit, Indonesia harus mengimpor bahan bakar.

Sebagian sumur minyak, seperti lapangan Minas dan Duri, sudah tua. Sumur-sumur minyak Minas sudah dikuras sejak awal 1950-an, sementara sumur di Duri berproduksi sejak 1975.

Tanpa ada penemuan lapangan migas baru, cadangan minyak Indonesia hanya akan bertahan 12 tahun. Cadangan gas hanya tinggal kurang dari 38 tahun. Potensi migas Indonesia sebenarnya masih lumayan besar, terutama di wilayah timur Indonesia dan laut dalam.

Yang jadi soal, risiko gagal pada eksplorasi di daerah frontier dan laut dalam sangat besar. Sepanjang 2009-2013, ada 12 kontraktor kontrak kerja sama migas yang menanggung rugi Rp 19 triliun dalam eksplorasi migas di laut dalam.

Untuk melindungi negara dari paparan risiko itulah dipilih skema kontrak kerja sama bagi hasil atau production sharing contract (PSC).

Dalam skema kontrak kerja sama bagi hasil, seluruh modal kerja dan risiko ditanggung oleh kontraktor kontrak kerja sama.

Walaupun menanggung seluruh risiko, kontraktor kontrak kerja sama migas bukan pemilik cadangan. Negaralah pemilik seluruh cadangan migas di negeri ini.

Apabila eksplorasi menemukan cadangan migas yang ekonomis untuk dikuras, bakal berlanjut ke proses produksi. Pemerintah akan mendapatkan pajak dan retribusi serta setoran jatah bagi hasil dari produksi migas.

Sumber : detik.com, sindonews.com, kompas.com