Indonesia Miliki 3 Potensi Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

0
202

Bank Indonesia (BI) melihat setidaknya ada tiga potensi yang bisa dioptimalkan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi tahun depan. Dengan ketiga potensi tersebut, bank sentral optimistis, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2017 akan berada di kisaran 5-5,4%.

Gubernur BI Agus DW Martowardojo memaparkan, tiga potensi yang bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi itu adalah pertama, kepercayaan pelaku ekonomi terhadap pemerintah dan pengambil kebijakan yang cukup besar. Ini buah dari disiplin kebijakan fiskal dan moneter dalam menjaga stabilitas ekonomi.

“Kami meyakini, prestasi capaian program pengampunan pajak tidaklah mungkin diraih, bila tidak didorong oleh kepercayaan yang tinggi terhadap arah kebijakan pemerintah dan prospek ekonomi Indonesia ke depan,” ujar Agus dalam sambutannya pada acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia di Jakarta, Selasa (22/11) malam.

Kedua, sumber pembiayaan ekonomi luar biasa yang terefleksi dari hasil amnesti pajak yang besar, melebihi negara lain yang melakukan program serupa. Per 22 November 2016 deklarasi harta dari program tersebut mencapai Rp 3.938 triliun dengan nilai repatriasi harta mencapai Rp 143 triliun dan uang tebusan Rp 98,6 triliun.

Yang ketiga, lanjut Agus, adalah potensi teknologi digital yang berkembang pesat. Pada 2016 ini, kegiatan sharing economy dan digital economy meningkat pesat sebagaimana terlihat dari aktivitas fintech dan e-commerce. Perkembangan positif ini bila dimanfaatkan dengan tepat akan dapat meningkatkan efisiensi dan mendukung kegiatan ekonomi domestik.

“Dengan pasar yang besar, aplikasi teknologi digital kami anggap potensinya besar untuk mem-boost ekonomi kita. Hal lain yang kami soroti juga dari wanita ternyata bisa menggerakan sektor riil. Kami lihat beberapa survei bank dunia bagaimana owner UKM di Indonesia banyak dimiliki oleh wanita di banding negara lain. Kepercayaan dari industri keungan terhadap pelaku wanita juga besar,” kata dia.

Sejalan dengan potensi domestik itu untuk meningkatkan resiliensi pertumbuhan ekonomi domestik di tengah lambatnya pertumbuhan ekonomi global, menurut Agus ada beberapa fungsi dasar yang bisa dijalankan pengambil kebijakan yakni stabilisasi, alokasi sumber daya yang dimilik secara prioritas, dan efisien misalnya memprioritaskan pembangunan infrastruktur.

“Untuk melaksanakan fungsi dasar kebijakan ini, perlu kesinambungan, konsistensi, dan sinergi,” tandas dia.
Untuk tahun depan, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi 5-5,4%, dengan sasaran inflasi 3-5%, dan defisit transaksi berjalan (CAD) di bawah 3% PDB (produk domestik bruto). Selanjutnya, pertumbuhan kredit dan DPK (dana pihak ketiga) masing-masing 10-12% dan 9-11%. Dalam jangka menengah (2021), pertumbuhan ekonomi diproyeksi 5,9-6,3% dengan CAD di bawah 3%.

Menurut Presiden Joko Widodo (Jokowi), kondisi ekonomi masih belum membaik, salah satunya karena volume perdagangan yang masih menurun dan harga komoditas yang belum kembali normal. Namun, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dalam posisi yang baik dibanding banyak negara lain. “Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I mencapai 4,94%, triwulan II 5,18% , dan triwulan III 5,02%. Saya kira, jika dibanginkan dengan negara lain kita masih dalam posisi yang sangat baik,” kata Jokowi.

Inflasi tahun lalu, kata dia, juga terjaga di 3,5 % dan tahun ini diperkirakan 3,3%, serta kondisi defisit transaksi berjalan juga masih dapat dikendalikan dengan baik. “Saya kira, semua ini membuat tidak ada alasan untuk pesimis,” tegas Presiden.

Guna meningkatkan optimisme, ke depan ada tiga hal penting yang menurutnya harus segera dibenahi, yaitu meningkatkan daya saing, meningkatkan produktivitas, serta dengan pembangunan sumber daya manusia (SDM). Untuk meningkatkan daya saing, pemerintah akan berfokus pada pemberantasan korupsi, menurunkan inefisiensi, serta mengejar pembangunan infrastruktur.