Mengintip Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terbesar di RI

0
261

Potensi energi baru terbarukan memiliki peluang yang cukup menjanjikan bagi masa depan kelistrikan di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Saat ini ada total 7,5 MW PLTS yang tersebar di wilayah NTT.

Salah satu PLTS yang terdapat di NTT adalah yang berlokasi di Dusun Bajaneke, Desa Oelpuah, Kupang, NTT. Dengan kapasitas sebesar 5 MW, pembangkit milik PT Lembaga Elektronik Nasional (LEN) tersebut membantu PLN mengatasi defisit di sistem Timor, di mana pemadaman bergilir selama siang hari bisa diatasi sejak akhir Desember 2016 lalu, awal beroperasinya PLTS ini.

Tampak ribuan modul surya membentang di atas lahan seluas 7,5 ha, dengan satu modul menghasilkan listrik sekitar 230 watt. Energi ini kemudian dijual ke PLN dengan harga US$ 25 sen per kWh dengan masa kontrak 20 tahun, yang akan didistribusikan ke konsumen sesuai kebutuhan.

“Kami merasakan sendiri, dalam siklus satu tahun, sembilan bulan diantaranya itu panas. Jadi pengembangan energi surya ini cukup baik di NTT,” demikian diungkapkan oleh General Manajer PLN Wilayah NTT Richard Safkaur saat ditemui di lokasi PLTS Oelpuah di Kupang, NTT.

Dari penelitian maupun studi berbagai pihak, seluruh wilayah NTT kata dia berpotensi dalam pemanfaatan energi surya sebagai sumber energi terbarukan. Untuk itu, hal ini seharusnya menjadi potensi yang bisa dilihat oleh para investor untuk membangun pembangkit dengan energi terbarukan. Hal ini didukung lagi dengan rencana pemerintah yang mendorong pembangunan energi listrik terbarukan.

Setidaknya ada 9 lokasi yang ditetapkan oleh pemerintah untuk pembangunan pembangkit energi baru terbarukan hingga 2025 mendatang.

“Ini adalah awal program pemerintah untuk investor bisa berinvestasi di sektor energi surya. Kami bermimpi, di NTT bisa memiliki energi surya yang kapasitas nya lebih besar lagi,” tutur dia.

Komposisi pembangkit di NTT memang didominasi oleh PLTD. Biaya investasi yang terbilang mahal menyebabkan pertumbuhan penambahan pembangkit energi surya di NTT masih kurang, padahal potensinya sangat besar.

“Memang investasinya cukup mahal. Terutama untuk off grid, harus menyiapkan baterai yang harganya mahal sekali. Sehingga itu salah satu kendala karena investasinya cukup mahal. Kemudian size atau output yang dihasilkan belum maksimal. Kalaupun dibangun di daerah isolated, beban di sana tidak bisa maksimal untuk terserap. Jadi untuk saat ini masih dibangun yang kecil-kecil rata-rata 1 MW untuk daerah-daerah isolated,” jelasnya.

Namun demikian, meski dengan biaya investasi yang cukup mahal, PLTS ini tidak memerlukan biaya operasional yang besar seperti diesel, yang membutuhkan ribuan liter solar untuk melistriki daerah di NTT. Praktis biaya operasional hanya dilakukan untuk pemeliharaan modul surya, seperti menyiram air untuk menghilangkan debu dan pemotongan rumput di sekitar modul.

Setiap harinya, PLTS Oelpuah beroperasi dari jam 07.30 WITA, hingga jam 17.00 WITA, dengan rata-rata produksi sekitar 3-4 MW, karena tergantung kondisi cuaca. Meski membutuhkan biaya investasi yang cukup mahal, namun potensi yang besar dari sumber daya yang dimiliki sudah sewajarnya patut dilirik.

Belum lagi dengan beroperasinya PLTS ini, juga turut mendukung program energi ramah lingkungan. Mulai sejak Desember beroperasi, pembangkit ini telah menghasilkan energi sekitar 5.113 MW. Dengan jumlah sebesar itu, apabila dikonversi, maka setara dengan menanam 18.124 pohon, mencegah emisi CO2 dari PLTD sebanyak 3,6 juta ton, dan menghemat 1,5 juta bahan bakar solar untuk PLTD.

“Kelebihan PLTS ini memang investasinya mahal. Tapi operasional tidak membutuhkan biaya. Lalu kita harus bisa mendukung program greeen energy. Karena kekayaan panas ada di sini, di negara lain ada juga pembangkit surya yang besar tapi tidak punya iklim seperti ini. Jadi harus dimanfaatkan,” tukasnya.

Sumber : detik.com