PLN Targetkan 75,9% Penduduk NTT Bisa Nikmati Listrik di 2019

0
285

PT PLN (Persero) menargetkan rasio elektrifikasi listrik di Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 75,9% dalam tiga tahun ke depan. Saat ini, rasio elektrifikasi di NTT mencapai 52,69%. Ada 3 daerah masih mengalami defisit listrik, yakni di Sistem Waikabubak dan Waitabula, Sistem Waingapu, dan Sistem Larantuka.

General Manager PLN Wilayah NTT, Richard Safkaur, mengaku optimistis, rasio elektrifikasi 75,9% dapat dicapai, dengan pembangunan sejumlah infrastruktur kelistrikan, mulai dari Gardu Induk, pemasangan transmisi, hingga pembangunan pembangkit listrik.

“Kalau targetnya rasio elektrifikasi kami, tetap ikuti di Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) PLN, yakni sampai tahun 2019, rasio elektrifikasi kami 75,9%,” ujar Richard, saat ditemui di Kupang seperti ditulis Selasa (22/11/2016).

Ia mengatakan, tantangan dalam melistriki desa di NTT memang cukup banyak. Tingkat sebaran rumah penduduk yang jauh dari satu rumah ke rumah lainnya, membuat investasi pembangunan pembangkit listrik kerap menemui hambatan.

Terjadinya perbedaan luasan antara panjang jaringan tegangan menengah dengan tegangan rendah, membuat banyak jaringan listrik yang kosong.

“Jarak antar rumah satu ke rumah lainnya itu jauh. Dalam rencana investasi kelistrikan, ini sangat tidak feasible. Kan harusnya antar tegangan rendah dan menengah itu dekat, karena tegangan rendah kan untuk melistriki rumah tangga,” jelas dia.

Namun demikian, untuk pasokan listrik di NTT, hingga tahun 2018 mendatang diharapkan sudah bisa aman dari gangguan pemadaman. Hal ini disusul oleh sejumlah upaya yang tengah dilakukan, antara lain dengan mengganti Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dengan pembangunan pembangkit listrik energi terbarukan.

Penambahan kapasitas listrik di NTT ditambah dari adanya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Bolok di Kupang berkapasitas 2 x 15 megawatt (MW), dan kapal pembangkit listrik dari Turki berkapasitas 60 MW.

“Kami targetkan supaya tidak defisit lagi, untuk langkah besarnya kami harus bisa mengevakuasi. Di Bolok kan lagi dibangun IPP 2 x 15 MW yang ditargetkan beroperasi akhir tahun ini atau awal tahun. Kemudian ada juga vessel kapal Turki juga akan masuk, jadi tahun depan ada tambahan 90 MW. Kalau ini sudah selesai, gardu induk kami akan beroperasi, transmisi, berarti semua beban akan bisa dipikul di pembangkit-pembangkit tadi,” tutur dia.

“Ada juga rencana pengadaan mesin, kita pindahkan ke daerah-daerah isolated. Jadi baik Timor maupun Flores, strateginya memperkuat pembangkit di daerah besar dan memindahkan mesin pembangkit ke daerah remote. Timor 2017 sudah pasti aman. Flores karena tantangan transmisinya, tahun 2018 bisa aman. Untuk Sumba, kalau hanya mengatasi pemadaman, bisa dari pengalihan PLTD itu,” tandasnya.

Sebagai informasi, PLN Wilayah NTT mengoperasikan 4 area pengerjaan, di antaranya Flores bagian barat, Flores bagian Timur, Sumba, dan Timor. Saat ini sumber listrik di NTT didominasi oleh PLTD dengan kontribusi 80%. Sedangkan sisanya oleh bauran energi lain, seperti surya, mini hidro, dan batu bara.

Sumber : detik.com